Saya dapat cerita ini dari buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya" karangan Ajahn Brahm. Salah satu buku spiritualitas paling menarik yang pernah saya baca.
Ada dua perempuan. Mereka mau membuat kue.
Perempuan pertama memiliki bahan-bahan yang kualitasnya buruk. Tepung terigu berjamur, gula dengan noda-noda coklat, mentega yang mulai masam dan kaya akan kolesterol, serta kismis yang sudah berhari-hari tidak dikonsumsi sehingga menjadi sekeras batu.
Perempuan kedua memiliki bahan-bahan berkualitas terbaik. Tepung terigu murni hasil tanaman organik, mentega bebas kolesterol, gula pasir kualitas baik dan kismis yang masih segar dari kebunnya sendiri.
Mana yang menghasilkan kue lebih enak?
Selama ini kita sering berpikir kalau bahan baku sangat menentukan segalanya. Tapi di luar itu, ada yang lebih dari sekedar tepung terigu, mentega, gula pasir, dan kismis kualitas terbaik. Bisa saja perempuan yang pertama membuat kue yang jauh lebih enak dari perempuan kedua bila ia dengan sepenuh hati membuat kue itu. Apa yang kita lakukan dengan bahan-bahan itulah yang membuat kue menjadi berbeda.
Di dunia ini ada banyak orang yang dilahirkan dengan kekurangan-kekurangan, misalnya cacat, penampilan tidak menarik, tidak pandai, tidak pintar bergaul, dan sebagainya. Tapi mereka 'meracik' segala kualitas tersebut dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh, sehingga membuahkan hasil yang mengagumkan.
Ada pula orang-orang yang dilahirkan pandai, kaya, penampilan oke, dan sebagainya. Tapi mereka tidak memanfaatkan 'bahan-bahan berkualitas' tersebut untuk 'membuat kue yang enak'. Bisa jadi mereka lalai lalu kelewat lama memanggang kuenya sehingga rasanya tidak enak.
Setengah dari takdir adalah segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Sisanya, yang paling menentukan, adalah apa yang kita lakukan dengan kelebihan dan kekurangan tersebut.
***
Seorang teman saya ada yang sering mengatakan quote ini
"Orang hebat belum tentu dilahirkan hebat. Tuhan mengajarkannya kegagalan untuk menempanya menjadi hebat"